~ Where Fantasy meets Brotherhood ~


You are not connected. Please login or register

near death experience - pengalaman koma selama 40 hari

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

kepa

avatar
Captain
Captain
MATI & KEMATIAN ADALAH HAL YANG PASTI!

menakutkan? obsesi?
Aku akan mulai dengan kata terakhir, OBSESI…rasa ingin tahu, penasaran,
tergelitik menyebabkan banyak orang membicarakan tentang kematian, atau
malah menghindarinya sebisa mungkin. Mati & Kematian identik dengan
misteri bagiku, barangkali bagi kebanyakan orang yang pernah meluangkan
waktu untuk memikirkan hal yang satu ini.
Ketika mati, benarkah orang bertemu dengan malaikat? benarkah orang mati
bertemu orang-orang lainnya yang terlebih dahulu mati? benarkah orang
mati bertemu Tuhan?? Anehnya mati bagiku hanyalah kondisi, awalnya tak
ada suatupu yang terlihat, terasa, teraba, aku tak bertemu siapapun,
yang bisa ku ingat, aku ada di dalam sebuah kegelapan yang pekat,
sampai-sampai tak mampu merasakan degup jantungku sendiri, tak mampu
merasakan nafasku sendiri.
Dalam hitungan yang tak bisa kuhitung semuanya berubah, ruang itu
menjadi amat lapang dan terang, makin lapang, makin terangnya
menyilaukan, anehnya matapun tak bisa berkedip demi menghalau silaunya
yang menusuk tajam seperti kilat menyambar dan menghancurkan tubuh ini
sampai tak bersisa. Sakit, pedih, ngilu tak tertahankan merobek setiap
inci tubuh yang sudah hancur binasa, tak kuasa menahannya hingga aku
berdoa dalam hati, meminta mati tuk mengakhiri semuanya.
Ruang yang luas itu sepertinya tak memiliki dinding, sepertinya ta
terhitung berapa luasnya.. Terang itu masih menyilaukan dan menghujamkan
ribuan mata pedang ke arah tubuh ini, dan mulut ini masih mengucap doa
memohon akhir dari sakit yang tak tertahankan.. Ketika doa serasa
didengar dan dikabulkan, kini aku tersadar sepenuhnya, terperangah,
terkejut.. namun tak kurasakan degup jantung yang mengencang, barangkali
itu hanya gambaranku saja, ketika aku melihat tubuhku sendiri
tergeletak lunglai tak berdaya, darah menyembur dari bagian kaki,
kepala, dan punggungku sendiri, oh dari tubuhku yang tergeletak di aspal
jalanan itu.. Tersadar dengan sekelilingku, walau mata ini tak bisa
menjauh dari pemandangan yang ada didepanku, melihat tubuhku hancur,
bersimbah darah. Lamat-lamat kudengar suara hiruk pikuk, orang-orang
mulai berdatangan, mengelilingi tubuhku yang itu. Gelap mulai
mengelilingiku lagi..
Kudengar suara rintihan halus, pilu.. diselingi doa-doa, memanggil
namaku, isak tangis, diam, menangis lagi, doa lagi, dan dia memanggil
namaku.. suaranya amat kukenal.. ah! itu ibuku, kenapa dia menangis?
kusentuh punggungnya dia bergeming, dia hanya duduk memandangi tubuh
yang terbaring di tempat tidur itu.. TIDAK!! itu tubuhku.. berbagai
macam selang menempel keluar masuk dari lubang-lubang yang sepertinya
dibuat seseorang di berbagai sudut tubuhku yang itu.. Oh! Ibu.. maaf aku
telah membuatmu menangisi tubuhku yang itu.. Aku disini, Bu.. aku
disampingmu.. Dia tak mendengarku. Berkali-kali kuusahakan agar dia
mendengarku, tak pernah membawa hasil, sampai akhirnya aku menyerah, aku
hanya bisa memandangi ibuku, tubuhku di sudut ruangan itu.
Saatnya aku berjalan menyusuri waktu dan segala sesuatu yang terjadi
dalam kurun waktu, kadang aku kebingungan, orang-orang yang kulihat tak
bisa seluruhnya kukenali, tempat yang kulihat tak sepenuhna kukenali,
aku hanya diperbolehkan berjalan, terus berjalan, ditemani orang yang
memiliki wajah serupa denganku, aku tak diperbolehkan bertanya, dan
mempertanyakan, aku hanya boleh berjalan lurus ke depan, tak bisa
kuhentikan. Sebenarnya kadang aku merasa sedang menonton sebuah film
dengan durasi sangat panjang, semua adegan itu hanya melesat cepat di
depan mataku, tak boleh kuhentikan, dan memang tak bisa. Kenapa aku
menyebutnya waktu? aku tak tahu.. hanya kata itu yang terlintas di
pikiranku.
Kini kembali kudengar ibuku memanggil namaku, ya.. suaranya amat
kukenal, kadang ingin kuberlari memeluk tubuhnya, rasa rindu ini tak
tertahankan, tapi aku tahu.. itu sia-sia. Ketika keinginanku teramat
menggebu untuk mengguncang tubuh ibuku, memeluknya, meneriakkan namanya
agar dia menoleh, memalingkan wajah padaku, maka selanjutanya aku akan
ditarip pada gelap yang sudah amat kukenal, maka.. setiap kali keinginan
itu muncul, aku akan menahan sebisaku, bagiku doa-doa dan ratap pilu
tangisannya sudah menjadi nyanyian merdu penghibaran dalam masa
penantian. Ah! orang yang mengenakan topeng wajahku pernah berkata
padaku, “Bersabarlah.. tunggu sampai semuanya tuntas..” Ya! hanya
kata-kata itu yang kuingat, satu kalimat yang tetap akan kuingat.
Kini aku gelisah, entah mengapa rasa nyeri ini tak bisa kuhentikan,
diseling rasa perih, sakit, tiada dapat kuhentikan, sakit ini terus
menghebat, terus mendera.. Kurasakan jutaan palu godam menghantam
kepala, dada, dan seluruh permukaan tubuhku, ingin aku berteriak, aku
ingin mengakhiri rasa ini, ingin aku bangkit dan berlari, aku butuh
sesuatu untuk mengehntikannya.. Kurasakan sesuatu di genggaman tanganku,
cepat kuremas, kugenggam, ya makin nyata kurasa, kupikir ini
kesempatanku terakhir untuk meronta, mengakhiri rasa sakitku.. sambil
kugenggam lebih keras aku mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa,
kuteriakkan sesuatu, keras, keras sekali.. Aku tak mau berhenti
berteriak, aku ingin Ibu mendengarku.. Ketika kubuka kedua mataku..
kulihat wajah penuh kasih ibuku, dengan linangan air mata danpuja- puji
syukur kehadirat Tuhan, “Nak.. akhirnya kau menemukan jalan pulang.. ini
Ibumu nak, Ibu menunggumu pulang…”
AA said:
Hanya itu yang bisa kuceritakan sebagai kenang-kenangan sepulangku dari
koma selama kurang lebih 40hari.. Saat ibuku yang ada disamping tubuhku,
saat itulah aku bisa memahami, aku ada diantar ketiadaan. Hanya Ibu
yang bisa kujadikan arah pulang.
Percayalah! bertahun-tahun aku mencoba memahami apa dan bagaimana semua
itu, dalam ketidak berdayaan ini, tubuhku lumpuh dan aku harus
menghabiskan sisa umurku dengan kursi roda ini. Kecelakaan di jalan raya
itu, motorku dihantam truk gandengan itu, dulu membuat ku frustasi dan
ingin mengakhiri hidupku.. lagi! Tapi ada satu yang selalu
menghalangiku, kalimat yang ‘dia’ titipkan.. selalu terngiang. Dan
selalu mampu menghentikan niatku untuk menghabisi masa penantian ini.
*postingan ini sudah mengalami pengurangan/editing, atas permintaan yang bersangkutan.
http://filsafat.kompasiana.com/2011/02/14/near-death-experience-2/

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik